Thursday, 29 May 2014

Hati Gak Bisa Di Vermak

Kemarin gw nanya salah seorang temen gw tentang seberapa penting perawatan kulit buat dia, berapa kali dia perawatan. Dan ternyata buat dia perawatan kulit itu penting banget. Well gw dulu pernah berpikir seperti itu, waktu gw mengalami krisis pubertas dimana hormon jerawat gw meledak-ledak sehingga menimbulkan banyak jerawat. Dulu eyang gw akan selalu buatin sebuah obat dari buah belimbing lalu diusapkan ke wajah. Pernah juga karena saking gilanya jerawat di muka gw, gw sampe mesti pergi ke dokter kulit untuk diobatin. Bokap pada akhirnya bilang ke gw "kalo mau mukanya bersih maka hatinya juga bersihin."

Kenyataannya banyak banget orang yang mau bersihin wajah, kulit dan rela bayar mahal supaya wajahnya jadi keliatan cakep. Di Korea Selatan operasi plastik adalah hal yang lumrah banget dilakuin. Katanya setiap part dari tubuh punya dokter spesialisnya masing-masing. Well gw gak tau kalo di Indonesia gimana tapi seenggaknya yang gw perhatiin kalo di Indonesia lebih booming buat perawatan kulit. Anak-anak cewe di UI sering banget gw denger ngebicarain tempat perawatan kulit mana yang paling bagus, yang paling murah, dsb. Data dari WSJ (Wall Street Journal) juga bilang kalo ternyata negara-negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia di dalamnya, menjadi  negara yang bertumbuh pesat dalam penjualan produk perawatan kulit. Nih datanya:



Lalu gimana dengan masalah hati? Gak banyak orang menyadari bahwa hati juga mesti "dipercantik". Tapi berbeda dengan wajah atau kulit  menurut gw hati gak bisa divermak. Tau kan di vermak maksudnya? Hati tuh gak bisa ditambel, hati gak bisa dijait ulang, hati cuma bisa dirubah jadi hati yang baru. Kenapa mesti dirubah? Karena hati yang lama gak akan bisa terima hal-hal yang baru. Inget perumpamaan kirbat lama dan baru di Alkitab. Dibilang kirbat yang lama gakbisa dimasukin anggur yang baru karena asamnya akan merobek kirbat yang sudah lama.

Banyak dari kita sudah mengalami hal-hal yang menyakitkan dalam hidup. Hati kita jadi rusak, lobang-lobang, luka-luka. Usaha untuk membetulkan dan menjahit luka hati hanyalah kesia-siaan belaka. Kita akan selalu dihantui oleh rasa takut, kuatir untuk melangkah kembali, takut memberikan kepercayaan lagi, dan banyak hal lainnya. Kenapa? Karena luka meninggalkan bekas, langkah meninggalkan jejak, semua ada sejarahnya. Maka diperlukan sebuah hati yang baru untuk kembali memulai.

Gw banyak melihat orang-orang yang hatinya diperbaharui dan memulai lagi hidup mereka tanpa ada beban masa lalu yang kelam dan menyakitkan. Nyokap gw salah satu contohnnya. Gw belajar dari beliau bahwa memiliki hati yang baru sebenernya mempercepat langkah, berakselerasi maksimal. Pertanyaannya gimana cara memiliki hati yang baru? Gampang. Minta saja kepada Dia yang pasti dengan penuh kasih merubah hati kita. Gw teringat sebuah lagu dari True Worshiper yang judulnya "Jadi SepertiMu" . Salah satu liriknya bilang kayak gini, "Ubah hatiku seputih hati Mu, setulus hatiMu..." Ya hati harus dirubah dan yang ngerubah cuma Tuhan. Membetulkan hati adalah sebuah kesia-siaan. Dan mungkin ada benernya kata bokap gw diatas "kalo mau mukanya bersih maka hatinya juga bersihin."

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan -Amsal 4:23-
Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. -1 Samuel 16:7b-

Saturday, 17 May 2014

A Women's Heart Should Be So Hidden in God That a Man Must Seek God Just to Find Her.

Kemarin pas di Gereja, waktu pendeta khotbah tentang mengasihi Tuhan dan sesama tiba-tiba sebuah frasa muncul di otak gw,
"Jangan pernah coba membina hubungan dengan lawan jenis ketika hubunganmu dengan Tuhan sedang tidak baik."


Sekali waktu gw berdiskusi tentang pasangan hidup sama temen gw by BBM. Lalu muncul lah frasa ini:
A Women's heart should be so hidden in God that a Man must seek God just to find her.
Sepintas ini terlihat seperti sebuah pesan dari wanita untuk pria. Bahasa kasarnya, "Heh kalian cowo-cowo kalau kalian mau dapetin kita cewe-cewe, kalian harus cari Tuhan dan minta izin sama Dia untuk dapetin kita!" Hahaha am i right?

Masalahnya begitu gw melihat frasa tersebut gw gak hanya melihat itu sebagai sebuah keharusan seorang laki-laki mencari Tuhan untuk menemukan hati si wanita, tapi gw juga melihat ada peran wanita untuk mau menyembunyikan hatinya di dalam Tuhan supaya "Godly Man" bisa menemukannya waktu dia mencari. Ini adalah sebuah keharusan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Cowo-cowo mau dapet cewe yang takut Tuhan? Ya kita harus berani mendekat kepada Tuhan supaya Tuhan akhirnya menuntun kita ke cewe yang takut Tuhan. Cewe-cewe mau dapet cowo yang takut Tuhan? Ya cewe-cewe juga harus deket sama Tuhan supaya Tuhan bisa menuntun cowo yang takut Tuhan kepadamu.

Cinta itu selalu berkaitan dengan 3 pribadi. Tuhan, pria, dan wanita. Selalu seperti itu. Gak pernah berubah. Makanya membina relasi dengan Allah adalah hal yang harus diutamakan dalam setiap hubungan. Sama seperti sebuah timbangan yang kedua sisinya gak seimbang, demikianlah relasi seseorang yang salah satu pasangannya dekat sama Tuhan dan yang lain tidak. Ada sebuah ketimpangan dalam menjalaninya. Makanya Alkitab bilang carilah pasangan yang sepadan. Sepadan dalam konteks hubungan sama Tuhan adalah sebuah kesadaran betapa pentingnya untuk mau terus membina hubungan yang intim dengan Tuhan.

Maka dari itu frasa tadi bukan cuma keharusan yang dilakukan oleh para cowo-cowo diluar sana tapi juga dilakukan oleh para cewe-cewe diluar sana. Kalian semua, termasuk gw, harus mendekat sama Tuhan sampai pada akhirnya Tuhan, gw nyebutnya "The Invisible Hand", akan mempertemukan kalian berdua dengan cara yang indah.
"Heh cewe-cewe kalau kalian mau dapetin cowo yang takut Tuhan, kalian harus cari Tuhan dan minta Tuhan menuntun cowo yang takut Tuhan itu kedalam hidup kalian."

Friday, 16 May 2014

Capek Banget...

Minggu ini perjuangan banget!
Gw merasa ini titik tercapek gw di tahun 2014 haha. Tapi emang bener minggu ini perjuangan.

Di awal minggu gw sudah menyadari bahwa daya tubuh melemah dan pasti gw sakit. Dan bener gw sakit. Faktor utamanya karena gw kecapekan, faktor kedua karena gw bandel. Bandel minum es terus, makan goreng-goreng, makan indomie 2 bungkus. Ditambah juga di kantor gw semua pada sebarin virus. Emang sih cuaca juga lagi gak mendukung, pagi panas banget tapi menjelang sore ujan mulu. Alhasil selasa badan gw anget, rabu gw flu.

Rabu, 15 Mei 2014, hari libur nasional. Apakah benar-benar libur? Oh tidak, nyatanya gw kerja dari pagi sampe malem. Tapi bukan kerja kantoran, kerjanya di Gereja hahaha. Hari Rabu kemaren ada RTS Mahasiswa dan gw turut ambil bagian dalam pelayanan tersebut. Rabu pagi jam subuh gw bangun dengan badan gw masih panas dan batuk, gw cuma bisa bangun ambil obat, gw minum dan tidur lagi sambil berharap besok paginya gw udah mendingan. Sembuh? Tidak, badan gw masih anget. Pagi itu waktu gw bangun jam 6, gw cuma bisa bilang sama Tuhan, "Tuhan kasih aku kekuatan, aku mau melayani-Mu hari ini." Sejujurnya disitu gw sempet kepikiran untuk minta izin supaya gw gak ikut tapi gw lebih memilih untuk ikut daripada cuma bisa berbaring di tempat tidur meratapi sakit gw. Karena kemurahan dan kekuatan dari Tuhan gw sepanjang hari itu tetep bisa melayani Tuhan.

Selesai RTS gw berharap, gw bisa ambil cuti besok dan beristirahat di rumah tidur dengan pulas. Tapi sebelum mimpi indah terwujud, ada suatu suara di ujung sana memanggil namaku dengan jelas, "Kak Ari, Kak Ari besok sharing firman ya di SMA 2." Haleluya, mimpi indahku itu pun buyar seketika hahaha. Hari ini, Jumat, 16 Mei 2014, gw gak jadi istirahat tapi gw kembali melayani. Kembali lagi Tuhan kasih kekuatan buat gw melayani Dia lagi.

Minggu ini perjuangan banget.

Sejujurnya gw sering mengeluh kalau gw capek banget. Tapi gw terus mau melawan keinginan daging gw untuk males-malesan dan mager. Emang gak enak tapi harus!

Buat kalian yang mengalami hal yang, jangan menyerah minta kekuatan dari Tuhan supaya kita tetap bisa terus mengerjakan pekerjaan yang Tuhan udah percayakan untuk kita lakukan

"Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi."


Thursday, 17 April 2014

Celebrating 23 years Walking by His Mercy and Grace

"Alkisah ada seorang anak perempuan yang berulangtahun. Ibunya memberikan kado sebuah piano kecil kepada anaknya sebagai hadiah untuk ulangtahunnya. Anak tersebut senang sekali dan mulai berlatih untuk memainkannya.

Pada suatu hari terdengar kabar bahwa seorang Grand Master Piano terkenal akan mengadakan konser di kota dimana mereka tinggal. Sang ibu langsung memesan dua tiket untuk dia dan anaknya agar dapat menonton konser tersebut. Ibu itu berharap dengan menonton konser tersebut, anaknya dapat semangat belajar dan menjadi ahli dalam bermain piano.

Hari yang ditunggu pun tiba. Sang ibu dan anaknya berpakaian yang bagus dan segera pergi ke tempat konser berlangsung. Sesampainya di tempat konser yang beraula besar, mereka langsung menuju ke depan dan mengambil tempat duduk dekat dengan panggung. Di panggung sudah tersedia sebuah Grand Piano yang besar. Benda itu tampaknya membuat mata si anak ini terbelalak tak percaya. Sang ibu yang mengetahui kekaguman sang anak berkata, "Kalo kamu sudah besar dan sudah jago main piano, nanti ibu akan belikan Grand Piano untuk kamu." Si anak kecil pun hanya terdiam.

Lampu pun dimatikan tanda pertunjukan segera dimulai. Keadaan menjadi sunyi menunggu si Grand Master keluar. Di antara kesunyian tersebut tiba-tiba Grand Piano itu berbunyi. Penonton bingung dan suara gaduh mulai terdengar mencari tahu apa yang terjadi di atas panggung. Seketika lampu sorot dinyalakan dan menyorot ke arah Grand Piano di panggung. Begitu disorot tampak lah si anak kecil yang sedang memainkan lagu twinkle-twinkle little star dengan tempo yang tak beraturan dan note yang salah. Permainan anak ini begitu buruk sehingga semua orang dalam ruangan tersebut mulai berteriak dan menyuruh anak itu turun. Ditengah kegaduhan itu lah tiba-tiba sang Grand Master Piano tersebut masuk mendekati anak kecil tersebut. Grand Master tersebut duduk dan tanpa disangka sang Grand Master tersebut bermain untuk mengiri permainan anak tersebut. Penonton yang tadinya gaduh pun menjadi terdiam dan mulai mendengarkan permainan duet dari Grand Master Piano dan anak kecil tersebut. Tak disangka permainan tersebut menghasilkan melodi yang indah dan sedap di dengar. Setelah permainan mereka benar-benar padu, sang Grand Master menjetikan jarinya ke atas dan seketika itu juga semua pemain orkestra yang ada di panggung tersebut mulai memainkan alat musik mereka mengiringi permainan sang Grand Master dan anak kecil tersebut. Melodi, dinamika yang dihasilkan begitu indah dan berhasil membuat takjub banyak orang yang hadir dalam konser itu."

Aku dilahirkan pada tanggal 18 April 1991.
Kehidupanku selama 23 tahun ini sama kayak cerita di atas. Tentu saja aku anak kecilnya bukan Grand Masternya. Kamu tau siapa Grand Masternya? Yup, bener banget! Dia Tuhanku.
Tanpa sang Grand Master kehidupan, mungkin aku tetep acak adul kali ya idupnya. Diteriakin orang, bahkan dilemparin tomat kali bisa. Tapi karena sang Grand Master kehidupan hidup ku jadi sedap dilihat orang, enak di dengar, dan bisa jadi berkat buat mereka.

Pertemuanku dengan sang Grand Master tentu saja adalah pertemuan yang bersejarah dalam hidup ini. Kebetulan aku ketemu Dia juga pake lagu. Sama seperti cerita di atas, sang Grand Master itu dateng ketemu aku pas hidup aku lagi amburadul. Eh tiba-tiba Dia dateng mau benerin semua yang amburadul itu. Coba-coba bayangin. Baik banget kan? Tapi gak cuma sekali itu doang loh Dia ketemu aku, Dia dateng tiap hari, bahkan sampe sekarang Dia pun tetep dateng. Tentu saja aku gak lagi kecil kayak dulu. Sekarang aku udah gede tapi Dia tetep dateng dengan cara yang sama seperti aku kecil dulu. Hahaha sejujurnya aku gak keberatan dianggep masih kecil terus sama Dia.

Aku udah 23 tahun sekarang, Iya iya aku tau kalo aku udah tua, tapi ketika aku melihat kebelakang hidupku jauh sampai sebelum aku bertemu dengan Dia, aku selalu mikir "Kok bisa ya aku ada disini sampai sekarang?". Kenapa mikir gitu? Iya karena kalo dipikir-pikir hidupku yang sekarang dan yang dulu itu gak ada benang merahnya. Iya aku dulu gak sempet loh mengolok-ngolok sang Grand Master, aku sempet menolak kalo Grand Master itu bener-bener ada, kalo ada yang cerita tentang kehidupan Grand Master aku tuh bilang kalo dia pembohong. Pokoknya aku benci banget dulu sama Grand Master. Jadi kebayang banget dong betapa amburadulnya hidupku waktu itu. Kalo liat kebelakang selalu aku berpikir "hidup aku sekarang dan yang dulu titik temunya dimana coba?"
Aku gak pernah kebayang banget bisa kuliah di Universitas yang warnanya kuning, gak pernah kebayang bisa masuk persekutuan gitu, dapet keluarga kayak sekarang aja gak pernah kebayang.

Sejak sang Grand Master datengin aku, hidupku jadi kayak penuh petualangan gitu. Petualangannya tapi tuh gak selalu seru, kadang menyakitkan, kadang seru banget, kadang buat aku menangis tersedu-sedu, atau bahkan membuat aku ketawa terpingkal-pingkal. Petualangan itu bener-bener merubah hidupku dari tak berharapan menjadi penuh dengan kepastian. Merubah hidupku dari amburadul menjadi enak dilihat. Ih kamu yang belom ketemu Grand Master pasti jadi pengen ketemu kan? Sini-sini aku kenalin, siapa tau kita bisa berpetualang bareng-bareng.

Aku udah 23 tahun sekarang, iya iya aku tau kalian udah tahu umurku yang baru. Di umurku yang baru aku udah gak sabar berpetualang lagi sama sang Grand Master.-||-




Nama aku Ari Pujari Immanuel Panjaitan dan aku dedikasikan hidupku seluruhnya untuk Kristus dan hanya untuk Kristus lah aku ingin hidup.Bila kalian bisa liat aku sekarang, itu semua karena apa yang Tuhan perbuat di Kalvari. Dia mati dan bangkit untuk menebus dosa-dosa aku dan kamu. Jadi yuk aku kenalin sama Dia :)

#TGBTG


Wednesday, 9 April 2014

PEMILU

"Cie yang kelingking ungunya di foto pake Camera 360 terus dipajang di Instagram sama Path. Cie"
Hahaha anyway guys, selamat melakukan pesta demokrasi ya. Selamat memilih orang yang tidak anda kenal untuk merepresentasikan diri anda di pemerintahan.

Gw balik lagi menulis nih. Sebenernya udah banyak ide yang gw ciptakan untuk menjadi sebuah tulisan yang bakal gw post nanti, pada waktu yang tepat tentu saja. Nah ditulisan ini gw cuma mau menyoroti kejadian pemilu di Indonesia.

Jadi ceritanya gw tuh sebenernya bukan orang Depok. Gw baru pindah ke Depok itu tahun 2008, sebelumnya rumah gw itu di Salemba, Jakarta Pusat. Pas tadi pagi gw berangkat dengan agak males-malesan, malah berpikir untuk golput, karena gw mesti nyoblos di Jakarta sob. Yah tau lah Jakarta-Depok tuh sebenernya malesin banget kalo gak ada KRL. Terus sampe di Jakarta langsung ke daerah Salemba I. Tau gak Salemba I? Kalo gak tau gak gaol haha. Oke sesampainya di TPS gw menyerahkan surat keterangan pemilih gitu ke petugas dan gw duduk menunggu sampe gw dipanggil. Saat gw duduk menunggu dan melihat-lihat keadaan, melihat hape, dan sampailah pada momen dimana gw berpikir bahwa Indonesia sangat primitif. Kenapa? Ini hasil pemikiran gw:

1. Pemilu itu berasa kayak lebaran kedua. Untuk nyoblos lw harus balik dulu ke tempat lw bikim KTP baru deh lw bisa nyoblos. Meskipun ada peraturan yang menyebutkan bahwa perantau boleh nyoblos asal nunjukin KTP tapi faktanya di lapangan peraturan itu gak ada banyak yang tahu. Contoh lain kayak yang gw temukan tadi adalah para perantau harus bikin surat kependudukan dulu di kota asal baru bisa nyoblos di kota tempat dia merantau. Yakali deh ribet banget cuma buat coblos-coblosan aja.

2. Pas gw masuk ke bilik suara gw merasa lebih primitif lagi. Gw menemukan sebuah paku yang dilapisi kardus buat pegangannya untuk coblos muka orang. Gile gile kalo yang nyoblos itu dukun yang ada orang yang dicoblos pada kena santet semua, kemasukan beling sama paku. Biliknya juga dari kardus gitu. Yaelaah.

3. Gw mikir berapa miliar rupiah yang dikeluarkan untuk membuat kertas suara sebegitu banyak untuk orang di seluruh Indonesia? Pemilu itu costly banget loh. Belum bayar juri-juri, akomodasi kertas dan kotak suara sampe ujung Indonesia, belom penghitungan manual kertas suara yang berjuta-juta. Men costly banget pasti. Indonesia sangat boros sekali waktu pemilu, gak heran inflasi naik waktu periode pemilu.

Dari 3 pemikiran ini gw bukannya gak menghargai Indonesia dan usaha KPU untuk menyelenggarakan pemilu yang lebih baik dari tahun ke tahun. Gw justru sangat menghargai, tapi cara pemilu ini sangat primitif. Gw rasa sebagai negara anggota G20 pemilu Indonesia harus diperbaiki kembali sistemnya terutama dalam hal penyelenggaraan.

Indonesia punya budget pasti di APBN yang dialokasikan untuk KPU. Nah mungkin alokasi budget itu bisa digunakan untuk membuat riset dan uji coba pemilu dengan menggunakan sistem elektronik atau Internet. Warga negara Indonesia udah punya e-KTP yang mana untuk mengidentifikasi penggunaanya bisa menggunakan sidik jari. Nah sidik jari ini bisa digunakan untuk pemilu juga karena database kependudukannya adalah milik pemerintah juga. Berguna banget untuk orang yang dalam perantauan tinggal pake sidik jari doang udah teridentifikasi. Identifikasinya dalam hal apa? Bahwa dia asli WNI dan bahwa dia sudah ikut pemilu. Kalo udah begitu jelas dong gak ada fraud atau kecurangan bahwa ada pemilih ganda? Dan juga semua orang pasti bisa memberikan hak pilihnya walaupun dia sedang ada dalam perantauan.

Kedua please gunakan komputer atau layar sentuh waktu orang mau memilih. Kenapa? Lebih praktis dan bisa terus digunakan. Ya dong gak mungkin komputer sekali pake langsung buang. Lagipula kalo pake komputer juga bisa langsung kirim pake internet dan langsung bisa kehitung suaranya. Gak usah pake quick count segala karena suara yang masuk pasti bisa langsung kehitung secara live.

Oke pasti diantara semua saran gw ada kelemahannya. Mulai dari ketidaksiapan pemerintah sampe ketidaksiapan rakyat Indonesia sendiri. Rakyat Indonesia yang belom terbiasa dengan perkembangan teknologi pasti bingung mau ngapain. Yang ada dia duduk termenung dan takjub melihat ada layar bisa disentuh-sentuh. Atau kalo ada yang lebih primitif lagi bisa dicolong terus dijual di Glodok. Sosialisasi yang terus menerus perlu banget dilakukan oleh KPU sebagai penyelenggaran acara akbar di Indonesia ini. Kedua, pemerintah juga pasti tidak siap karena dana yang dianggarkan dari riset-uji coba-hingga implementasi pasti lah sangat mahal. Makanya jangan dikorupsi mulu duitnya Pak, Bu. Satu hal lagi kekurangan yang perlu disoroti adalah koneksi internet di Indonesia yang sangat lambat dan juga banyaknya server yang diperlukan untuk mendukung ledakan aktifitas Internet selama pemilu. Tentu balik-balik lagi masalah duit sih sebenernya.

Nah dibalik semua keluh kesah dan buah pikiran gw tentang betapa primitifnya pemilu di Indonesia berjalan, juga mengenai sepak terjang parpol, caleg, dan capres Indonesia, kita harus terus mendoakan agar Indonesia boleh mendapatkan pemimpin yang bisa memimpin Indonesia dengan baik, jujur, dan tegas supaya Indonesia akan semakin baik dikemudian hari.

Thursday, 20 March 2014

Bila Engkau Tak Besertaku (Kel 33:1-23)

Lagu ini lagu kesukaan gw. Coba lw nyanyiin lagu ini pas lagi bangun pagi pas lagi SATE. Begghh!

Anyway lagu ini diciptakan oleh Don Moen dan diterjemakan oleh om Welyar Kauntu. Lagu ini terinspirasi dari sebuah kejadian di Alkitab dimana waktu itu bagsa Israel nyembah anak lembu emas waktu Tuhan memberikan 10 hukum kepada Musa. Waktu itu Tuhan marah besar sama bangsa Israel sehingga dia bilang ke Musa kalo dia gak bakal menyertai umat Israel lagi. Cuma tiang awan dan api dan malaikat Tuhan aja yang menuntun Israel.

Musa, yang dikatakan di Alkitab berbicara berhadapan muka dengan Tuhan, bilang "Jika bukan Engkau yang menuntun kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini." Waktu gw merenungkan firman ini dan denger lagu ini, gw cuma bisa nangis dan gw menyadari gw sangat membutuhkan Tuhan di dalam setiap aspek kehidupan gw.

Nah ini dia lagunya versi suara dan petikan gitar gw hehe

Dia Dan Aku Sama-Sama Diam

Kalo kamu merasa lelah dan capek hari-hari ini, well aku juga merasakan hal yang sama. Kadang aku cuma bisa liat ke atas dan bilang "Kok kayak gini Tuhan?" tapi ya tak ada jawaban. Diam seribu bahasa. Setiap hari aku mencari jawaban dan menanti kepastian, tapi hanya sepi yang bisa aku terima. Mau mempersalahkan Tuhan? Oh tentu saja bisa tapi aku memilih untuk diam juga, sama seperti Dia yang diam.
Namun pertanyaannya adalah apakah selamanya tetap begini? Saling tidak berbicara, membiarkan sunyi merajarela diantara kita berdua? 

Aku sudah muak dengan keadaan seperti ini sebenarnya. Aku bosan, lelah sekali rasanya menanti sebuah kepastian. Melihat semua orang berlari gembira, melihat mereka tertawa lepas, melihat kalian melompat kegirangan hanyalah selingan dalam tiap hari yang aku jalani. Aku? Cuma duduk-duduk saja disini. Aku cuma bisa diam ketika kalian semua bisa berlari, tertawa, dan melompat. "Apa yang harus aku lakukan?", kataku sambil melirik ke atas. Apa salahku sehingga aku ada di situasi dimana semua tampak redup? Apa yang telah kulakukan sehingga aku ditempatkan di tempat yang sesak ini?

Saat ini aku cuma bisa mendalami kalimat dari seorang penyair yang berkata "Berkata-katalah dalam hatimu tapi tetap lah diam." Ya aku berkata-kata tapi sebenarnya aku tetap diam. Hatiku bergejolak dengan amarah dan rasa kesal tapi mulutku tetap diam. Pikiranku penuh dengan sungut dan serapah tapi aku usahakan mulutku memuji dan menaikan syukur kepadaNya. Ah namun Dia tetap diam, diam seribu bahasa. Mungkin Dia sedang mengamati lakuku. Mungkin Dia sedang melihat tingkahku dan menguji kedalaman hatiku. Aku tak tahu Dia sedang apa, namun aku tahu dia memperhatikanku dari kejauhan.

Hanya detik jam yang berbicara...